Pemuda, Kumis atau Klimis

Wednesday, October 28, 20201komentar


Kumis di banyak budaya dan bangsa, dianggap simbol yang melambangkan kebijaksanaan dan kehormatan. Termasuk manambah sisi maskulin. Namun bagi saya, kumis yang mulai memanjang sejak Maret 2020 lalu, merupakan tanda mulainya pandemi covid-19 masuk di Indonesia.

***

Hari ini, Rabu 28 Oktober 2020, salah satu momentum paling bersejarah bagi anak muda Indonesia. 92 tahun lalu, 28 Oktober 1928, berlangsung Kongres Pemuda II, yang menjadi pemicu lahirnya Sumpah Pemuda. 

Momentum ini menjadi salah satu titik balik perjalanan bangsa Indonesia, dalam merebut Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. 

Tentu banyak pengorbanan dalam merebut kemerdekaan. Utamanya anak muda yang gigih berjuang. Dari korban perasaan hingga nyawa.

Untuk mengenang pengorbanan para pendahulu, saya rela mengorbankan kumis yang dipelihara sejak Maret 2020 lalu. Sebagai penanda awal Covid-19 masuk di Indonesia. Minimal bagi diri saya. Makanya saya menyebutnya 'kumis anti corona.' Haha

Kumis ini juga sebagai simbol perlawanan terhadap pandemi covid-19. Termasuk kebijakan karena pademi. Yang penanganannya banyak di luar nalar. Katanya sains, tapi perlakuannya kadang jauh mencirikan sains. Tapi sudahlah. Kita tidak bicara corona sekarang.

Minimal, cukur kumis memberi kesan kembali muda. Atau merasa muda. Minimal semangatnya. 

***

Semenjak memelihara kumis, saya banyak mendengar cerita tentang makna dari simbol kumis. Dari teman-teman. Ada yang menyebut itu simbol keberanian. Jantan. Dan banyak lagi tentang makna yang berhubungan dengan pria sejati.

Setelah menelusuri berbagai literatur di 'om Gugel,' kumis memang banyak dimaknai positif. Utamanya di Eropa dan Amerika. 

Sejak era Yunani Kuno, jenggot dan kumis dipandang sebagai tanda kehormatan. Sedangkan di Turki dan India, melambangkan kebijaksanaan dan martabat tinggi.

Bagi Bugis-Makassar, kumis biasanya melambangkan dari keberanian. Seperti gagah beraninya Sultan Hasanuddin, I Mallombassi Daeng Matawang, yang dijuluki Belanda sebagai ayam jantan dari timur.

Sementara dari sisi manfaat, Tirto mencatat, kumis dan jenggot merupakan daya tarik bagi lawan jenis. Ini berdasarkan studi yang dimuat di Archives of Sexual Behaviour tahun 2015. Responden perempuan menganggap laki-laki berjenggot dan berkumis lebih atraktif dari laki-laki bercukur bersih.

Begitu juga dari aspek evolusi, kumis dianggap jadi daya tarik perempuan. Teori ini tentu banyak benarnya. Saya merasakan itu. Haha...

Manfaat lainnya, The University of Queensland mencatat, bulu di wajah dapat melindungi seseorang dari sinar UV berbahaya hingga 95% dengan Ultraviolet Protection Factor (UPF) hingga 21. 

Manfaat perlindungan UV ini tentu dapat berefek awet muda. Yang penting terawat.

Dari sisi ekonomi, laman Medium.com mencatat, alat pencukur kumis ternyata berhasil menciptakan industri dengan keuntungan sebesar US$ 1,1 Miliar dalam setahun. 

Di lain sisi, kumis ternyata mendapat perhatian serius dari banyak bangsa. 

Di Rusia misalnya, ada kampanye khusus bulu di wajah. Di bulan November. Namanya Movember. Kampanye tahunan sepanjang November ini untuk meningkatkan kesadaran atas kesehatan laki-laki. 

Gerakan Movember ini merupakan gabungan dari 'moustache' (kumis) dan November. Artinya, tak ada waktu yang lebih baik selain bulan November untuk sejenak mengagumi bulu-bulu halus di atas bibir para pria.

Sementara di Amerika, ada organisasi advokasi nirlaba yang didirikan khusus untuk bidang advokasi rambut wajah. Namanya American Moustache Institute (AMI). 

Wikipedia mencatat, AMI merupakan satu-satunya organisasi di dunia, yang menganjurkan penerimaan kumis yang lebih besar di tempat kerja dan di seluruh budaya modern.

Kumis juga banyak diidentikkan dengan tokoh berpengaruh dunia. Seperti Adolf Hitler, Charlie Chaplin, Martin Luther King Jr, pemimpin militer Kekaisaran Mongolia Jenghis Khan, dan masih banyak lagi. Mereka sederet pria yang menyimpan kisah tentang kumisnya yang unik.

Begitu juga dengan kumis absurd pelukis surealis yang nyentrik, Salvador Dali. Ia membentuk kumisnya seperti pedang tipis yang melengkung ke atas.

Di Indonesia, tokoh berkumis yang paling menancap di pikiran orang masa kini adalah figur Pak Raden, yang banyak muncul di televisi.

Tokoh lain dengan khas adalah mantan Wapres Jusuf Kalla (JK). Tokoh asal Sulsel ini punya kumis tipis nan kecil. Mirip alis. 

Tokoh lain di Sulsel yang terkenal dengan kumisnya adalah Pahlawan Nasional, Sultan Hasanuddin, yang dikenal pemberani melawan penjajah Belanda. 

Bagi orang Makassar, kumis identik melambangkan keberanian. Rewa, dalam bahasa Makassar. Namun bukan berarti orang klimis tanpa kumis, tak berani. 

Buktinya, dalam Patih Gajahmada Kerajaan Majapahit tak berkumis. Begitu juga Raja Bone, Arung Palakka, se zaman dengan Sultan Hasanuddin, berpenampilan klimis. Tanpa bulu di wajah.

Pertarungan Sultan Hasanuddin yang berkumis, dan Arung Palla yang klimis, tak mempengaruhi kesan siapa yang lebih gagah perkasa. Sebab keduanya punya kharisma masing-masing.

Keduanya membawa simbol dari yang diwakilinya. Dari setiap simbol, tetap akan memberikan kesan tersendiri. Jadi pemuda mau klimis atau kumis? (*)


Palopo, Rabu 28 Oktober 2020

Share this article :

+ komentar + 1 komentar

October 29, 2020 at 4:25 PM

Istri lbh suka klo sy berkumis... Hahaha

Post a Comment

 
Support : TEKAPE.co | Arsip
Copyright © 2015. Catatan Abd Rauf - All Rights Reserved
Desain by Berita Morowali Powered by Abd Rauf