Catatan Kusam Saat di UKM LIMA Washilah

Sunday, May 31, 20150 komentar

Logo UKM LIMA Washilah/Sumber:Washilah.com

Jika saya mengingat Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, saya pasti ingat pers mahasiswa (Persma), yang telah resmi menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Informatika Mahasiswa Alauddin (LIMA) Washilah.


Di lembaga intra kampus itulah, saya pernah digembleng dan belajar banyak. Baik melalui teori yang diperoleh melalui kajian-kajian ataupun diskusi-diskusi ringan dengan senior dan teman, maupun lewat praktek, utamanya dalam peliputan, pengelolaan, dan penulisan berita.

Satu hal yang paling saya ingat, dan telah menjadi pelajaran penting bagi saya, yakni saat saya menulis keluhan salah seorang mahasiswa kepada dosennya. Keluhan tersebut diceritakan kepada saya dan berharap diberitakan di buletin Washilah, yang terbit setiap pekan. Tapi dengan syarat namanya disamarkan, karena alasan takut nilai ujiannya akan bermasalah.
Saat itu, saya kemudian menulis 'curhat' tersebut, dengan menyamarkan nama sang narasumber.

Karena saat itu saya tidak punya nyali untuk mengonfirmasi keluhan tersebut kepada dosen yang bersangkutan, maka saya menulisnya tanpa menyebut inisial dosen yang dikeluhkan tersebut, bahkan jurusan dan mata kuliahnya juga tidak disinggung. Sebagai reporter saat itu, saya menulis. Namun pimpinan redaksi Washilah saat itu, Abd Thalib, 2007 silam, entah lupa atau dianggap tidak harus ada konfirmasi kepada yang bersangkutan, sehingga tidak ada perintah untuk konfirmasi. Berita itu kemudian terbit.

Saat itu, berita tersebut tersebar begitu cepat, dan akhirnya sampai di telinga sang dosen yang dikritik tersebut. Dosen yang selama ini dikenal kritis itu, tidak terima dirinya dikritik, meski berita itu tidak jelas siapa yang disinggung, tapi ia merasa tersinggung.

Karena merasa dirugikan dengan pemberitaan, saya dan narasumber saya, terkena dampak. Bahkan saat itu, mahasiswa yang pro terhadap sang dosen sempat nekat mengeroyok kakak saya, sehingga saya juga terpaksa terlibat. Kakak saya dinilai membela narasumber dan dianggap ikut andil dalam bocornya keluhan tersebut, karena saat itu, yang menjadi narasumber adalah pacarnya, yang saat ini sudah menjadi istrinya.

Malamnya, sempat terjadi ketegangan antar mahasiswa. Sang dosen menggerakkan mahasiswa yang banyak bergaya preman, dan kebanyakan dari Mapalasta. Hampir terjadi tawuran di Mannuruki atas provokasi sang dosen. Sebab teman-teman kakak saya juga merasa tidak terima masalah tersebut sudah sampai pada pengeroyokan.

Sialnya, berita itu muncul sehari sebelum saya ujian akhir semester. Meski dosen tersebut, yang kebetulan juga mengajar saya, telah berjanji tidak akan ada kaitannya dengan nilai, namun kenyataannya, nilai saya error. Begitu juga dengan nilai narasumber saya.

Tidak ada alasan jelas sampai nilai saya error. Sebab saya menjawab baik hampir semua pertanyaan. Dibanding sebagian teman, saya merasa lebih pantas lulus dari ujian akhir itu. Tapi nyatanya, cuma saya yang tidak lulus.

Saya tidak tau jelas, kenapa harus disikapi terlalu besar. Sebab menurut saya, jika delik pers, biasanya diselesaikan dengan baik, ada hak klarifikasi. Tapi ternyata disikapi dengan jalur lain.

Peristiwa ini adalah catatan kelam saat saya mulai menulis, sekaligus pelajaran sangat berharga, sebagai reporter koran kampus yang pemula. Ibarat pil pahit, yang kemudian membuat saya semakin nekat untuk berjuang.

Dalam menulis, harus lebih bijak, memikirkan asas manfaat dan asas kepentingan orang banyak.
Persma, adalah media perjuangan. Idealisme masih kental. Namun tak jarang terpasung oleh kepentingan birokrasi kampus, dan menyepelekan kepentingan mahasiswa sebagai masyarakatnya.

Tahun 2015 ini, persma Washilah, telah 30 tahun berkiprah di kampus hijau. Nama Washilah dalam bahasa Arab, berarti media penyampai. Kata Washilah juga disebut-sebut diambil dari akronim tiga pendirinya, Waspada Santing, Hasanuddin Ternate, dan Laode Arumahi.

Melalui tulisan ini, saya menguncapkan selamat milad untuk Washilah. Jika UNM dikenal dengan media kampusnya bernama Profesi dan Unhas dengan Identitas, maka UIN dikenal dengan Washilah. Semoga di usianya yang cukup dewasa ini, bisa berkarya untuk kepentingan kampus dan mahasiswa. Juga semoga menjadi mesin cetak tenaga penulis dan wartawan profesional di masa mendatang. (***)

Minggu, 30 Mei 2015
Share this article :

Post a Comment

 
Support : TEKAPE.co | Arsip
Copyright © 2015. Catatan Abd Rauf - All Rights Reserved
Desain by Berita Morowali Powered by Abd Rauf