Perang Narasi

Monday, March 16, 20260 komentar


PERANG
antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang sedang berlangsung saat ini memperlihatkan perang narasi dengan sangat jelas. 

Konflik ini memanas sejak akhir Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah target di Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan misil dan drone ke Israel serta pangkalan Amerika di kawasan Timur Tengah.

Sejak itu, bukan hanya misil yang saling diluncurkan. Narasi juga saling ditembakkan.

Setiap hari media sosial dipenuhi video, foto, dan klaim dari berbagai pihak. Ada yang menunjukkan kehancuran kota. Ada yang mengklaim kemenangan militer. Ada juga yang menyebarkan rumor tentang kematian tokoh tertentu atau kekalahan pihak lawan. Bahkan pernah beredar kabar palsu tentang kematian pemimpin Israel yang kemudian dibantah sendiri oleh pihak terkait.

Di tengah banjir informasi seperti ini, publik sering merasa sedang melihat fakta. Padahal yang beredar sering kali hanya potongan cerita yang dibangun untuk kepentingan tertentu.

Karena itu, ada tiga sikap sederhana agar kita tidak terseret dalam perang narasi.

Pertama, tanyakan siapa yang berbicara.

Dalam situasi perang, setiap pihak punya kepentingan. Pemerintah, militer, media, bahkan akun anonim di media sosial bisa membawa sudut pandang yang berbeda. Informasi yang keluar dari sebuah pihak sering kali bukan sekadar laporan, tetapi juga bagian dari strategi komunikasi.

Kedua, telusuri sumber informasinya.

Apakah informasi itu berasal dari laporan media kredibel, pernyataan resmi, atau hanya potongan video tanpa konteks yang beredar di grup WhatsApp dan timeline media sosial? Banyak video perang yang viral ternyata berasal dari konflik lama atau tempat yang berbeda.

Ketiga, cek fakta sebelum percaya.

Dalam situasi konflik, manipulasi gambar, video lama, dan narasi yang dipelintir sering digunakan untuk mempengaruhi emosi publik. Tujuannya sederhana: membangun simpati, memancing kemarahan, atau menggiring opini.

Perang modern bukan hanya tentang siapa yang menang di medan tempur. Ia juga tentang siapa yang menang dalam membentuk persepsi publik.

Karena itu, di tengah derasnya informasi tentang perang Iran, Amerika, dan Israel hari ini, publik sebenarnya tidak kekurangan berita. Yang sering kurang justru satu hal sederhana: ketenangan untuk memverifikasi.

Sebab di era media sosial, seseorang bisa saja tidak memegang senjata apa pun. Tetapi ketika ia menyebarkan informasi yang belum tentu benar, tanpa sadar ia sudah ikut berada di medan perang, perang narasi. (*)


Share this article :

Post a Comment

 
Support : TEKAPE.co | Arsip
Copyright © 2015. Catatan Abd Rauf - All Rights Reserved
Desain by Berita Morowali Powered by Abd Rauf