Melepas Jenuh di Bungku, Morowali

Friday, May 20, 20160 komentar

 Melepas Jenuh di Bungku, Morowali (1)

Jika jenuh menghinggapi, salah satu obatnya adalah 'melarikan' diri dari rutinitas keseharian kita.


Sabtu 14 Mei 2016, sekira pukul 02:30 wita dini hari, saya mendapat jemputan langsung dari teman, sang juragan media dari Morowali.

Perjalanan menuju Bungku, ibukota Kabupaten Morowali, Sulteng, terbilang lumayan jauh. Dengan menggunakan mobil pribadi atau angkutan umum sejenis Panther, kita harus menempuh perjalanan sekitar 12 jam dari Kota Palopo, Sulsel.

Untuk sampai ke Bungku, biasanya kita melalui Danau Matano, sebuah danau di Sorowako, Luwu Timur, yang disebut-sebut danau terdalam di dunia. Namun bagi yang tidak mau menyeberang memakai perahu, ada jalur darat, namun memakan waktu yang cukup lama.

Untuk menyebrang, kita naik perahu bersama mobil yang ditumpangi. Sewanya biasanya sampai Rp300 ribu per mobil. Seberang danau, kondisi jalannya cukup menantang. Ada sekitar 30 km kondisi jalan rusak parah. Hanya kerikil berserakan dan tanah merah.

Memasuki wilayah perbatasan Morowali, Sulteng dan wilayah Luwu Timur, Sulsel, tampak terasa. Jalanan tak begitu mulus. Bahkan boleh dibilang rusak.

Sabtu siang, sekira pukul 13:00 wita, saya sampai ke ibukota Kabupaten Morowali, Bungku. Makan lalu istirahat di sebuah penginapan tak jauh dari rumah sang bos.

Jalan-jalan ini sekaligus untuk mengikuti acara jalan santai dalam rangka HUT ke-6 koran Radar Metro Morowali, yang dirangkaikan dengan 8 tahun kepemimpinan Anwar Hafid-SU Marunduh, bekerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan Morowali, Minggu 15 Mei 2016.

Atensi masyarakat setempat terhadap acara seperti ini cukup bagus. Apalagi kupon gratis ditambah membludaknya hadiah yang disiapkan panitia. Beberapa pejabat teras Morowali juga ikut. Wakil Bupati Morowali SU Marunduh bahkan ikut sampai hadiah habis dibagi.

Usai acara jalan santai, sore harinya, panitia menyempatkan diri untuk merefresh pikiran mereka. Kami mengunjungi salah satu objek wisata di Bungku, Morowali, yang hanya sekira 10 menit perjalanan dari pusat kota.

 Melepas Jenuh di Bungku, Morowali (1)

Namanya Permandian Bahoruru. Dengan modal Rp5000 untuk dewasa dan Rp3000 untuk anak-anak, kita sudah bisa menikmati wisata alam permandian itu. Wisata ini sebenarnya hanya kolam. Namun bagi saya cukup menarik.

Letaknya di kebun. Kolamnya ada tiga tingkatan. Air di Kolam ini tak seperti kolam kebanyakan. Airnya alami, tanpa menggunakan zat kimia seperti kolam kebanyakan. Airnya dialirkan langsung dari kali yang mengalir. Tak menggunakan pompa, mengalir alami.

Sisi paling atas, terdapat kolam kecil yang langsung berada di air terjun. Berada di bawah air terjun, seperti dipijit. Airnya dingin. Bagi yang ingin berenang, ada kolam agak luas bisa dipakai. Hanya saja airnya tidak terlalu dalam. Cocok bagi yang ingin belajar berenang.

Tak terasa Magrib pun tiba. Kami bertiga dari Palopo, ditemani khusus Kepala BPJS Ketenagakerjaan. Ia akrab disapa Bang Sal. Orangnya gaul. Ia kemudian mengajak kami keliling melihat kota Bungku yang masih sepi, jika dibanding dengan Kota Palopo, apalagi Makassar. Jakarta tidak usah disebut. Jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan.

Kami melihat perencanaan di Kota Bungku cukup bagus. Di sepanjang pesisir pantai, terdapat jalanan yang didesain nanti akan mirip dengan jalan sepanjang Losari sampai Barombong.

Pusat perkantoran berpusat di satu kompleks, namanya Funuansingko. Disana semua kantor pemerintah berpusat. Kami juga diajak ke pantai, namanya Pantai Ipi. Masih sangat sunyi. Untung sudah ada tempat yang bisa ditempati pesan kopi dan pisang goreng. Hanya auman ombak yang bagai musik bersahutan. Angin sepoi-sepoi mengelus kulit.

Sepulang dari pantai nan sepi, kami kemudian menghabiskan malam di salah satu warung di Bungku. Namanya cukup menarik, Warung Menantu. Warung ini milik salah seorang dokter spesialis di Morowali.

Konsepnya cukup menarik. Tata letaknya sederhana. Furniturenya juga alami. Hanya tripleks bertiang besi. Tapi desainnya ibarat kafe. Warung ini juga menjual makanan khas kota-kota besar, pizza, spageti, mochacino, dan yang Inggris-Inggris lainnya. Namun nama itu berusaha didekatkan dengan masyarakat dengan menambah nama daerah. Ia belajar soal kuliner di Bali saat mengambil kuliah dokter spesialisnya.

 Melepas Jenuh di Bungku, Morowali (1)

Namun di warung ini tidak punya wifi. Seperti warkop lainnya, di Morowali memang agak sulit kita temukan warkop ber-wifi. Salah satu alasannya sang pemilik kenapa tidak dipasangi wifi adalah agar terjalin interaksi antar teman di warungnya.

Sebab selama ini, jika ada wifi, kenyataannya yang jauh ditemani komunikasi tapi orang yang ada di depannya dicuekin. "Kita ingin ada interaksi saat orang ketemu langsung. Biasanya kalau ada wifi, masing-masing sibuk dengan smartphone atau laptopnya," jelas dr Dodi, pemilik warung Menantu.

Ia juga membeberkan rahasianya dalam strategi membangun usahanya itu, yakni mencari teman. Satu teman dalam sehari. Sebab ia meyakini jika rezeki itu datangnya dari teman atau sesama manusia.

Lalu mengapa warung menantu namanya? dr Dodi mengaku, jika dari nama itu sebenarnya obsesinya ingin menjadi menantu yang baik. Sebab selama ini dirinya mengaku belum merasakan menjadi menantu yang baik bagi mertuanya. (Bersambung)
 Melepas Jenuh di Bungku, Morowali (1)

 Melepas Jenuh di Bungku, Morowali (1)

 Melepas Jenuh di Bungku, Morowali (1)

Share this article :

Post a Comment

 
Support : TEKAPE.co | Arsip
Copyright © 2015. Catatan Abd Rauf - All Rights Reserved
Desain by Berita Morowali Powered by Abd Rauf